Luweng Leng : Oase Bukit Karst Gunung Kidul dan Misterinya

0
120

Luweng Leng atau orang sekitar menyebutnya ‘Leng’ saja, adalah sebuah lubang seperti sumur berdiameter kurang lebih 100 m, dan kedalaman kurang lebih 90 m -menurut informasi warga sekitar-.

Luweng Leng terletak di tengah lahan luas di desa Candi, Giring Kecamatan Paliyan-Gunung Kidul. Lueng adalah bahasa jawa yang bisa di analogikan sebagai lobang raksasa dan leng adalah bahasa jawa yang artinya goa.

Didalam ‘Leng’ ini terdapat 2 elevasi tanah, pertama adalah tempat yang biasa digunakan untuk berkemah dan tempat atau jalur air atau sungai bawah tanah. Ini adalah penampakan -bukan penampakan mahkluk gaib ya hehehe- dari atas:

Luweng Leng : Oase Bukit Karst Gunung Kidul dan Misterinya
*sumber dari Kompasiana (http://www.kompasiana.com/yswitopr/luweng-leng-oase-bukit-karst-gunung-kidul_54f7c4caa333119a1d8b49c5)
Luweng Leng : Oase Bukit Karst Gunung Kidul dan Misterinya
Bisa dilihat dari foto, bahwa lubangnya benar-benar lebar bukan, no-pic = hoax hahhahaha. Next kita melihat kedalaman ‘Leng’, penampakannya bisa dilihat dibawah ini:
 Luweng Leng : Oase Bukit Karst Gunung Kidul dan Misterinya
Penampakan diatas adalah foto dari dasar sungai bawah tanah, lah mana airnya??? Pasti banyak yang nanya. Penulis masuk ‘Leng’ pada saat musim kemarau atau pada saat hujan jarang membasahi bumi kita ciecie.
Yak penulis kembali ke sesi serius, sungai bawah tanah hanya terjadi disaat hujan deras atau hujan dengan durasi waktu yang lama -bahasanya jadi aneh yaaa-. Berhubung kalo pake EYD BI -Ejaan Yang Dibenarkan klo gak salah, BI bukan Bank Indonesia ya, tapi Bahasa Indoesia- yang benar malah jadi terlalu formal.
Kembali ke cerita ‘Leng’, lubang ini diperkirakan telah terbentuk bertahun-tahun bahkan beratus tahun yang lalu, ya iyalah klo baru kemarin sore gak bakalan segedhe -sebesar, ma’af bahasa daerahnya keluar- ini.
Menurut warga sekitar ‘Leng’ ini sudah ada sejak jaman kerajaan, bahkan menurut beberapa sumber yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa ada beberapa lubang yang pernah disinggahi atau dalam bahasa daerah jawa disebut ‘pasanggrahan’.
Dari cerita rakyat yang berhasil penulis himpun mengatakan bahwa Eyang Brawijaya kaping gangsal – Kaping = ke, gangsal = lima- pernah tinggal beberapa saat bersama patihnya -patih = orang keperyaan raja- dan meninggalkan beberapa peninggalan penting. Dikatakan dalam bahwa Eyang Brawijaya sendiri sembunyi didalam goa karena dikejar-kejar prajurit anaknya -dalam hal ini adalah raja pada saat itu- karena suatu hal, menurut beberapa sumber mengatakan bahwa hal tersebut karena sang ayah tidak mau masuk agama Islam atau pindah agama ke Islam -harap menjadi catatan bahwa Islam tidak mengajarkan untuk memaksa siapapun untuk memeluk agama Islam, karena pada dasarnya semua agama itu baik dan benar hanya oknum tertentu saja yang memanfaatkan agama untuk hal-hal yang kurag benar sehingga menyebabkan suatu agama menjadi tercemar-.
Jadi kemana-mana ceritanya, kembali kecerita ‘Leng’, ‘Leng’ yang menjadi tempat persembunyian sementara Sang Eyang Brawijaya kaping gangsal pun sampai sekarang belum penulis tahu lokasi pastinya dimana, jadi lain kali kalau penulis sudah tahu lokasi pastinya langsung deh dipos hahaha. ‘Leng’ ini sebenarnya sangatlah panjang -menurut cerita warga sekitar-, penulis sendiri belum masuk terlalu dalam dikarenakan pada saat itu sedang mendung atau dalam bahasa geografisnya berawan, menurut warga sekitar lagi -kok ini cerita banyak warga sekitarnya ya, ya iyalah kan klo tanpa sumber berarti penulis dari tadi cuma mengarang indah dong, hahaha-.
Jadi jika berawan atau mendung tidak boleh masuk lebbih dalam karena dihawatirkan dapat hanyut sampai laut -loh laut kok bisa???- pasti banyak menjadi pertanyaan. Menurut penuturan warga sekitar kalau pada saat musin kemarau kita bisa mencapai tempat dimana kumpulan air menggenang -ma’af gak ada foto soalnya belum sapai kesana- maka kita dapat melihat cahaya matahari dan deburan ombak yang dalam hal ini adalah laut, eeeeettsssssssssss jangan senang dulu untuk menyusuri kumpulan air itu sangatlah berbahaya -lagi-lagi menurut cerita warga sekitar-, bahwa disana ada buayanya.
Belum jelas apakah ini buaya biasa -maksud kata biasa adalah ya cuma buaya air asin atau air tawar atau air payau gitu- atau buaya jadi-jadian atau mahkluk gaib dalam bahasa jawa disebut ‘Dayang‘, kalau diartikan dalam bahasa Indoesia kurang lebih yaaaa suatu mahkluk gaib yang telah lama tinggal disuatu tempat tertentu dan menjadi penunggu tempat tersebut atau semacam kepala RW klo di Desa hehehehe, jadi ‘Leng’ tersebut selain didiami atau ditinggali oleh ‘Dayang‘ -klo bener itu ‘Dayang‘ ya, klo bukan ya abaikan saja penuturan panjang dibawah ini, eeettss tapi cuma sampai titik aja klo sampai abis namanya bukan diabaikan tapi gak dianggap, hadeehh- maka ada mahkluk gaib lainnya.
Penulis ganti paragraf ya biar gak susah mana yang harus diabaikan dan mana yang gak, nah ini yang gak diabaikan yaaa. Didalam ‘Leng’ juga terdapat kelelawar dan monyet, klo kelelawar jelas pasti ada namanya aja goa, klo monyet hanya pada saat sungai bawah tanahnya terisi air saja.
Usut punya usut ternyata warga sekitar mengambil kotoran kelelawar tersebut dan dimanfa’atkan menjadi pupuk hewani -cemerlang juga idenya yaaa, hehehe, bercanda Mbah Pak Bu Om, saya yakin dan percaya klo masalah kepintaran orang Indonesi gak kalah jauh kok dengan orang luar negeri sana-. Kembali ke cerita pupuk hewani, sebentar …. …..???, pasti banyak yang bertanya kok ada yang ambil untuk jadi pupuk, pasti banyak dong kotorannya, ya iyalah, maka dari itu penulis juga gak berani masuk karena itu, klo hujankan itu tanah injakan lembek banget, semacam jalan di sawah yang sedang basah, katanya bagian tepi saja klo diinjak ujung kaki sampai lutut orang dewasa bisa masuk, kebayang gak klo nekat jalan sampai ujung, bisa tenggelem dah. Dengan kata lain juga itu didalam ‘Leng’ baunya maaannntappp alias suueeedeep, hahaha. Menurut warga sekitar juga, itu pupuk hewani kelelawar punya nama lohh, klo udah masuk pabrik hahaha.
Kembali kecerita ‘Leng’, ‘Leng’ ini terbentuk dari batu kapur, pemandangan yang indah menurut penulis terletak pada atap gua, klo yang punya rasa takut berlebihan bisa pingsan liatnya, stalagmitnya ngeri kayak mau jatuh, ujungnya kecil bagian tengah besar dan ujungnya runcing, kebayang gak klo sampai jatuh, bisa jadi sambal kan klo kena, tapi santai aja, yang penting berdoa aja, toh juga klo jatuh udah sejak dulu kali jatuhnya.
Kembali kecerita warga sekitar lagi, didalam gua juga difungsikan sebagai tempat berkumpul empat dusun, ngapain didalam gua??? empat dusun pula….. . Mereka didalam biasanya mengadakan acara setahun sekali yaitu ‘Rasullan’ -ma’af klo salah ketik yaa-, mereka biasanya membawa tujuh ingkung -ingkung tu ayam jantan yang dimasak dengan cara direbus beserta isiperutnya, tapi tetep dibersihin dulu tu dalemannya ya, dalemannya itu ada hati, jantung, usus dan lain-lainnya, selain kotoran ya, semua dalemannya itu diikat dengan usus sehingga menjadi satu terus baru dimasukkan kedalam perut ayam lagi, lalu direbus dan ditambah bumbu rempah tertentu-, tujuh ingkung tersebut ditemani dengan nasi wakul dan hasil bumi, dalam artian disini ya sayur mayur yang sudah dimasak dengan cara direbus tentunya.
Para warga tersebut harus makan di dalam gua itu, untuk makanannnya habis ataupun enggak sisanya akan dibiarkan tetap didalam gua, menurut masyarakat sekitar itu sudah tradisi dari dulu tapi penulis gak ngerti dari kapan, lupa tanya, hehehe. Klo gak salah itu acara diadakan pada saat jum’at legi pada bulan Puasa atau ‘Ruwah’ dalam bahasa jawa atau ‘Sa’ban’ dalam bahasa arab. Tempat berkumpulnya warga menurut sumber ditanda merah pada penampakan gambar dibawah ini.
 *sumber dari penulis, itu kerabat penulis, ambil fotonya pake usaha banget lho, soalnya pake kamera hp, mau dibuat HDR aja susahnya minta ampun, soalnya low light dan banyak gambar yang malah jadi membayang, gak ngerti kenapa, mungkin yang lebih tahu para ‘Suhu potografi’, suhu tu katanya diatas master.
Diawal penulis kan menulis bahwa ada dua elevasi tanah yaitu sungai bawah tanah yang udah dijelaskan panjang lebar diatas dan tempat berkemah, nah tempat berkemah ini memiliki diameter sekitar 100 m an, lah berarti selebar lubang sumurnya, yup anda benar. Ditanah yang biasanya dipakai berkemah ini juga terdapat pohon pohon juga jadi jangan dikira cuma dataran tanah datar ya, klo gak percaya ini penampakannya…
Luweng Leng : Oase Bukit Karst Gunung Kidul dan MisterinyaBisa dilihatkan ada pohonnya walau agak gak jelas karena tingkat pencahayaan didalam ‘Leng’ dan luar yang berbeda jauh. Tumbuhan pohon dan rumput disitu biasanya juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk diambil sebagai pakan ternak -pakan = makanan-, walaupun medan yang terkadang agak licin karena batu kapur terkena air dan ada lumutnya juga, mereka tetap memanfaatkan tumbuhan disitu untuk pakan, ciri-ciri kalau ada yang sedang ambil atau ngarit -ngarit bahasa jawa, bahasa indonesianya kurang lebih ya merumput- adalah terdapat sandal dipintu gua atau ‘Leng’, eeettss kok bisa, bukannya pintu gua berbentuk sumur, gimana caranya itu bisa sempat ninggalin sandal dipintu gua gimana turun dan naiknya, emang mereka mau panjat dan turun pintu gua cuma mau cari pakan ternak, pasti banyak yang berfikir demikiankan hahaha.
Pintu gua atau ‘Leng’ ini ada dua ternyata, pertama sebenarnya adalah jalur yang bisanya dilalui air dalam hal ini adalah sungai, ini beneran sungai lhoo, jadi sebenarnya dipintu masuk ‘Leng’ ini terdapar sungai asli baru masuk gua, begitu. Jadi klo pas gak hujan dan takut turun dari pintu sumur ya lewat pintu sungai aja, gitu kok repot, hahahaha. Klo masih mau menguji adrenalin ya monggo lewat pintu sumur klo mau gampang ya lewat pintu sungai aja. Pintu ‘Leng’ melalui sungai ini sekitar 30an meter tingginya, itu perkiraan penulis. tapi tetap hati-hati ya jalanannya tetap licin walau gak musin penghujan karena ada lumutnya.
 Dulu menurut warga sekitar yang sedang mencari pakan ternak, sungai ini -ini sungai diluar gua ya jangan dikira didalam gua atau ‘Leng’- bisa dilewati truk, tapi berhubung sekarang lebar sungai sudah menjadi agak sempit, sudah tidak ada lagi yang lewat, menurut penulis paling juga yang masuk itu truk engkel -ma’af klo salah tulis, soalnya klo mau tulis angel ntar dikira malaikat, toh juga gak tahu bahasa yang sebenarnya itu bahasa inggris atau bukan- bukan truk double, truk engkel yang kira-kira lebarnya empat meteran lah. Truk-truk itu biasanya mengambil batu kapur sisi sungai, dulu menurut penuturan Bapak pencari pakan ternak banyak batu kapur yang ukurannya besar-besar, klo sekarang cuma tinggal beberapa saja.
Demikian cerita dari penulis mengenai “Luweng Leng : Oase Bukit Karst Gunung Kidul dan Misterinya“, klo disimpulkan kira-kira seperti dibawah ini:
  • Pertama ‘Luweng Leng‘ atau orang sekitar menyebutnya ‘Leng’ saja, adalah sebuah lubang seperti sumur berdiameter kurang lebih 100 m, dan kedalaman kurang lebih 90 m.
  • Kedua Pintu ‘Leng’ ini ada dua, dari lubang dipermukaan atas atau sumur atau melalui jalur air atau sungai.
  • Ketiga didalam gua ‘Leng’ menurut penulis sangat indah.
  • Keempat ada beberapa cerita menarik, seperti acara khusus setahun sekali, pupuk, cerita bernuansa kerajaan dulu, pencari pakan, dan lain-lain, mungkin masih banyak cerita kalau mau dan ingin bertanya dengan warga sekitar.
  • Kelima dan terpenting jangan masuk kedalam ‘Leng’ terlalu dalam apalagi disaat musim penghujan karena berbahaya, secara fakta ‘Leng’ ini adalah sungai bawah tanah yang konon bermuara langsung ke laut.
‘Luweng Leng’ ini jika menurut GPS terletak di:
LS 8° 1′ 27.40″
LT 110° 33′ 12.91″
atau dimap:
Sekian dari penulis, jika anda tertarik silahkan menuju ke TKP hahaha, maksudnya ke lokasi. Kalau ada yang salah mohon dima’afkan,
“Be Advanturer is Fun”

TINGGALKAN KOMENTAR

Tolong masukkan komentar anda
Tolong masukkan nama anda disini