Tugu Yogyakarta

1
137

Deskripsi
Tugu Yogyakarta merupakan sebuah bangunan monumen bersejarah yang terletak tepat di tengah perempatan antara Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan A.M. Sangaji serta Jalan Diponegoro.

Tugu Yogyakarta adalah sebuah titik pada garis imajiner lurus yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta dan Pantai Laut Selatan (* tampilkan peta). Untuk melihatnya dengan jelas bisa dilihat pada Google Map dibawah ini.

Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, Penulis dapatkan bahwa garis imajiner ini mempunyai arti khusus yaitu bahwa Keraton Yogyakarta mempunyai hubungan antara Gunung Merapi yaitu penguasa Gunung Merapi -dalam cerita rakyat yang beredar yaitu Eyang Sapu Jagat, ada beberapa sumber mengatakan wujud penjaga Gunung Merapi adalah Naga yang melingkar, seberapa sumber lain mengatakan bahwa Naga tersebut adalah Danyang yang memiliki wujud fisik keris yang pernah dibuat Eyang Sapu Jagat, dan beberapa cerita lainnya- dan Laut Selatan yaitu Penguasa Laut Selatan adalah Ratu Pantai Selatan atau sering dikenal sebagai Nyi Roro Kidul walaupun dalam cerita yang beredar Ratu Pantai Selatan ada lebih dari satu, berdasarkan informasi yang didapatkan penulis ada sekitar 99 Ratu yang semuanya mempunyai julukan yang sama yaitu Nyi Roro Kidul (percaya ataupun tidak terhadap cerita rakyat ini menjadi hak setiap para pembaca, disini penulis hanya mengungkapkan cerita yang menyebar di rakyat Yogyakarta sendiri, dimana mungkin hanya segelintir orang yang masih mengetahui cerita ini).
Oleh sebab itu budaya larungan selalu dilaksanakan pada bulan Sura di Laut Selatan maupun Gunung Merapi oleh pihak Kraton.

Dipantau dari catatan sejarah yang beredar didapatkan bahwa Tugu Yogyakarta yang sekarang menjadi ikon kota Jogja sendiri adalah bangunan hasil renovasi akibat dampak gempa musibah itu bisa terbaca dalam candra sengkala – sebuah catatan kata yang bermakna angka tahun — Obah Trusing Pitung Bumi (1796), tugu itu rusak terpotong sekitar sepertiga bagian yang terjadi pada 10 Juni 1867 atau 4 Sapar Tahun EHE 1284 H atau 1796 Tahun Jawa sehingga terjadilah pemugaran atau renovasi, Tugu ini dibangun saat Pemerintahan Belanda sekitar tahun 1889, diketahui dari catatan sejarah bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono VII meresmikan Tugu pada tanggal 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa pada saat itu bernama De Witt Paal atau Tugu Putih dengan Tugu berbentuk persegi dengan ketinggian 15 meter dan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu, berdasarakan beberapa sumber mengatakan Tugu diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Sedangkan Tugu pertama dibangun pada tahun 1755, tugu ini dibangun pada kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Bentuk Tugu pada masa itu tiang dari tugu ini berbentuk Gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk Golong (bulat), sehingga pada masa itu tugu ini disebut dengan nama Tugu Golong-Gilig dengan ketinggian mencapai 25 meter. Tugu ini mempunyai makna Manunggaling Kawula Gusti yang menggambarkan semangat persatuan antara rakyat dan penguasa dalam melawan penjajah. Namun menurut cerita rakyat yang beredar “Manunggaling Kawula Gusti” juga bisa bermakna sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta yang sempurna. (*gambar tugu jogja)

Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.

1 KOMENTAR

  1. Tugu jogjakarta apalagi stasiun tunggu merupakan momen yang paling indah buat Saya ketika ke sana gan. Memang oke deh

TINGGALKAN KOMENTAR

Tolong masukkan komentar anda
Tolong masukkan nama anda disini